Search

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 02 November 2010

Kemajuan Kebudayaan Pada Masa Dinasti Bani Umayah dan Dinasti Bani Abbasiyah



Kemajuan Kebudayaan Pada Masa Dinasti Bani Umayah dan Dinasti Bani Abbasiyah


PENDAHULUAN

A.            LATAR BELAKANG
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kekhalifahan dipegang oleh Khulafaur- Rasyidin. Banyak upaya yang dilakukan pada masa-masa tersebut hingga pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Dengan meninggalnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, maka bentuk pemerintahan kekhalifahan telah berakhir. Berubahnya bentuk pemerintahan dari khalifah ke dinasti (kerajaan) tidak membuat ajaran Islam berubah pula, melainkan peradabannya mengalami perkembangan yang pesat. Kemudian dilanjutkan dengan bentuk pemerintahan dinasti (kerajaan), yaitu dinasti Bani Umayah dan dinasti Bani Abbasiyah.
Sederet kejayaan Islam telah merentang panjang baik di masa Dinasti Umayah maupun masa Dinasti Abbasiyah. Banyak kemajuan-kemajuan yang berkembang pada masa itu meliputi beberapa aspek kehidupan yang mana sumbangsih tokoh-tokoh mereka masih sangat terasa sampai saat ini.
Pada dua masa dinasti itu juga, perkembangan kebudayaan khususnya Ilmu pengetahuan berkembang begitu pesatnya, hingga banyak sekali ilmuan dan tokoh muslim yang menghasilkan produk-produk pemikiran yang brilian.
B.            RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas maka pemakalah dapat mengambil rumusan masalah yang akan dibatasi dan dibahas menurut pembagian di bawah ini :
1.      Bagaimanakah proses munculnya Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah?
2.      Apa sajakah peranan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan?
C.            TUJUAN
Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka dalam pembahasan makalah ini akan mengupas isi tentang sejarah munculnya Bani Abbasiyah dan perananya bagi ilmu pengetahuan dengan masing-masing tokohnyaserta karya yang mereka hasilkan.


BAB  II
PEMBAHASAN

A.            BERDIRINYA DAULAH BANI UMAYAH
Sebutan Daulah Bani Umayah berasal dari nama “Umayah ibn ‘Abdi Syam Ibn Abdi Manaf, salah seorang pemimpin suku Qurasy pada zaman Jahiliyah. Bani Umayah baru masuk Islam setelah Nabi Muhammad Saw. berhasil menaklukan kota Mekah (Fathul Makkah). Sepeninggalan Rasulullah, Bani Umayah sesungguhnya telah menginginkan jabatan penggati Rasul (Khalifah), tetapi mereka belum berani menampakkan cita-citanya itu pada masa Abu Bakar dan Umar. Baru setelah Umar meninggal, yang penggantinya diserahkan kepada hasil musyawarah enam orang sahabat, Bani Umayah menyongkong pencalonan Utsman secra terang- terangan, hingga akhirnya Utsman terpilih. Sejak saat itu mulailah Bani Umayah meletakan dasar-dasar untuk menegakan Khalifah Umayah. Pada masa pemerintahan Utsman inilah Mu’awiyyah mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat dirinya, dan menyiapkan daerah Syam sebagi pusat kekuasaanya di kemudian hari.
Ketika Ali bin Abi Thalib naik menggantikan kedudukannya Khalifah Utsman bin Affan, Mu’awiyyah selaku gubernur di Syam (Syiria) membentuk partai yang kuat, dan meolak untuk memenuhi perintah-perintah Ali. Mendesaknya untuk membalas kematian khalifah Utsman, atau kalau tidak dia akan menyerang kedudukan khalifah bersama-sama dengan tentara Syiria. Desakan Mu’awiyyah akhirnya tertumpah dalam perang Siffin. Dalam pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Mu’awiyyah itu, hampir-hampir pasukan Mu’awiayyah terkalahkan. Tetpai pada saat demikin itu, Amr bin ‘As menasehati Mu’awiyyah agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf Al-Qur’an di ujung lembing-lembing mereka sebagi pertanda seruan untuk damai. Ali menruskan peprangan sampai akhir, tetapi malah terjadi peprpecahan diantar merka sendiri, sehingga pada akhirya Ali terpaksa menghentikan peperangan dan berjanji untuk menerima takhim.[2] Keputusan yang dihsilkan oleh wakil pihak Ali (Abu Musa al-Asy’ari) dan pihak Mu’awiyyah (Amr bin ‘Ash) ternyata membantu memperkuat kedudukan Muawiyyah dan golongan yang memdudukinya.
Peristiwa tahkim yang  justru merugikan Ali, mengakibatkan banyak pengikut Ali telah ingkar yang di kemudain hari disebut kaum Khawarij. Oleh karena itu umat Islam pada saat itu menjadi tiga golongan:
1.     Bani Umayah dipimpin oleh Muawiyah
2.     Syi’ah atau pendukung Ali., yaitu golongan yang mendukung kekhalifahan Ali
  1. Khawarij yang menjadi lawan dari kedua partai
Kaum Khawarij selalu berusaha untuk merebut masa Islam dari pengikut Ali, Muawiyyah dan ‘Amr, sebab mereka yakin bahwa ketiga pemimpin ini merupakan sumber dari pergolakan-pergolakan. Tekad mereka adalah membunuh ketiga tokoh diatas. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M) salah seorang Khawarijberhasil membunuh Ali di masjid Kufah,yang berarti pula mengakhiri masa pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin.

B.            KEMAJUAN KEBUDAYAAN PADA MASA DINASTI UMAYAH
Kemajuan kebudayaan masa dinasti Umayah telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual. Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.

1.     Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Kehidupan ilmu dan akal, pada masa Dinasti Bani Umayah pada umumnya berjalan seperti zaman khalafaur rasyidin, hanya beberapa saja yang mengalami kemajuan. Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
Ø  Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragossa, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fezzan tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti al-Farabi dan Ibn Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayatul- Mujtahid.
Ø  Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibnul Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunisia adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
Ø  Fiqih
Dalam bidang fiqih, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

2.     Perkembangan Seni

Pada masa Daulah Bani Umayah perkembangan kebudayaan mengalami kemajuan dan juga bidang seni, terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa, dan seni bangunan (Arsitektur).
Ø  Seni Bahasa
Kemajuan seni bahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan bahasa. Sedangkan kemajuan bahasa mengikuti kemajuan bangsa. Pada masa Daulah Bani Umayah kaum muslimin sudah mencapai kemajuan dalam berbagai bidang, yaitu bidang politik, ekonomi, sosial, dan ilmu pengetahuan. Dengan sendirinya kosakata bahasa menjadi bertambah dengan kata-kata dan istilah –istilah baru yang tidak terdapat pada zaman sebelumnya.
Kota Basrah dan Kufah pada zaman itu merupakan pusat perkembangan ilmu dan sastra (adab). Di kedua kota itu orang-orang Arab muslim bertukar pikiran dalam diskusi-diskusi ilmiah dengan orang-orang dari bangsa yang telah mengalami kemajuan terlebih dahulu. Di kota itu pula banyak kaum muslimin yang aktif menyusun dan menuangkan karya mereka dalam berbagai bidang ilmu. Maka dengan demikian berkembanglah ilmu tata bahasa (Ilmu Nahwu dan sharaf) dan Ilmu Balaghah, serta banyak pula lahir-lahir penyair-penyair terkenal.
Ø  Seni Rupa
Seni rupa yang berkembang pada zaman Daulah Bani Umayah hanyalah seni ukir, seni pahat, sama halnya dengan zaman permulaan, seni ukir yang berkembang pesat pada zaman itu ialah penggunaan khat arab (kaligrafi) sebagai motif ukiran.
Yang terkenal dan maju ialah seni ukir di dinding tembok. Banyak Al-Qur’an, Hadits Nabi dan rangkuman syair yang di pahat dan diukir pada tembok dinding bangunan masjid, istana dan gedung-gedung.
Ø  Seni Suara
Perkembangan seni suara pada zaman pemerintahan Daulat Bani Umayah yang terpenting ialah Qira’atul Qur’an, Qasidah, Musik dan lagu-lagu lainnya yang bertema cinta kasih.
Ø  Seni Bangunan (Arsitektur)
Seni bangunan atau Arsitektur pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah pada umumnya masih berpusat pada seni bangunan sipil, seperti bangunan kota Damaskus, kota Kairuwan, kota Al- Zahra. Adapun seni bangunan agama antara lain bangunan Masjid Damaskus dan Masjid Kairuwan, begitu juga seni bangunan yang terdapat pada benteng- benteng pertahanan masa itu.
C.            BERDIRINYA DAULAH BANI ABBASIYAH
Daulah Bani Abbasiyah adalah sebuah negara yang melanjutkan kekuasaan bani Umayah. Dinamakan daulat bani Abbasiah karena para pendidri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah Al-Safah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al- Abbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M.
Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaanAbbasiyah.
Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu revolusi. Menurut Crane Brinton dalam Mudzhar (1998:84), ada 4 ciri yang menjadi identitas revolusi yaitu :
1. Bahwa pada masa sebelum revolusi ideologi yang berkuasa mendapat kritik keras dari masyarakat disebabkan kekecewaan penderitaan masyarakat yang di sebabkan ketimpangan-ketimpangan dari ideologi yang berkuasa itu.
2. Mekanisme pemerintahannya tidak efesien karena kelalaiannya menyesuaikan lembaga-lembaga sosial yang ada dengan perkembangan keadaan dan tuntutan zaman.
3. Terjadinya penyeberangan kaum intelektual dari mendukung ideologi yang berkuasa pada wawasan baru yang ditawarkan oleh para kritikus.
4. Revolusi itu pada umumnya bukan hanya di pelopori dan digerakkan oleh orang-orang lemah dan kaum bawahan, melainkan dilakukan oleh para penguasa oleh karena hal-hal tertentu yang merasa tidak puas dengan sistem yang ada
Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah.
Kalangan Barat menilai masa Dinasti Abbasiyah ini sebagai ''The Most Brilliant Period'' atau masa paling cemerlang. Sedangkan Stephen Humphrey mengungkapkan kehadiran Abbasiyah ini merupakan titik balik paling menentukan dalam sejarah Islam.
D.            Kemajuan Kebudayaan Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Pada masa kekuasaannya, Al-Mansur mengambil langkah-langkah penting yang akan membawa efek besar terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li al-dawlah al-`Abbasiyah).  
Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan, Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan, bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam
Masa Dinasti Abbasiyah adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan. Beberapa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai berikut :
1.    Gerakan Penterjemahan Dan Baitul Hikmah
Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia ke dalam bahasa arab mengalami masa keemasan pada masa DaulahAbbasiyah. Para ilmuan diutus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah-naskah yunani dalam berbagai ilmu terutama filasafat dan kedokteran.
Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga membangun Ibu kota Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang diterjemahkan terutama dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran. Kemudian naskah-naskah filsafat karya Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pragmatis seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun, karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena bidang ini dianggap kurang bermanfa’at dan dalam hal bahasa, arab sendiri perkembangan ilmu-ilmu ini sudah sangat maju.
Pada masa ini, ada yang namanya Baitul hikmah yaitu perpustakaan yangberfungsi sebagai pusat pengembagan ilmu pengetahuan. Pada masa harun ar-rasyid diganti nama menjadi Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Pada masa al-ma’mun ia dikembangkan dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia danIndia. Direktur perpustakaannya seorang nasionalis Persia, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study dan riset astronomi dan matematika.
Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833-842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M), tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M).
Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh, Hunayn ibn Ishāq, Ishāq ibn Hunayn, Hubaysh ibn al-A`sam, Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i, Yahya ibn al-Bitrīq, Iqlīdis ibn Nā`imah, Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi, Āwī ibn Ayyub, Qustā ibn Lūqā, Astufun ibn Bāsīl, Salībā Ayyūb al-Rahāwi, Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak  lagi.       
Catatan menarik lainnya, bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja, melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka. Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka, seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah).
2.    Perkembangan Ilmu-ilmu Pengetahuan Agama
Kemajuan dibidang agama antara lain dalam beberapa bidang ilmu, yaitu ilmu tafsir, hadits, fiqih, ilmu kalam, tasawwuf dan ilmu bahasa.
Ø  Ilmu Tafsir
Pada periode pertama pemerintahan Abbasiyah ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits. Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun. Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā. Oleh karena itu tafsir ini dinamakan tafsir Al-Farra’. Sesuai dengan nama penyusunnya. Tafsir inilah sebagai perintis jalan penafsir-penafsir yang lahir sesudahnya. 
Dalam bidang ilmu Tafsir sejak awal sudah dikenal dua metode penafsiran, yaitu : (1) Tafsir bi al-ma’tsur yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. (2) Tafsir bi al ra’yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran dari pada hadist dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi ( tafsir rasional ) sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan.
Diantara tokoh-tokoh mufassir bi al ma’tsur:
1.     Al-thobari. Ia terkenal sangat teliti dalam meriwayatkan baik yang datang dari rasul, sahabat maupun tabi’in. Ia mengarang tafsir yang terdiri dari 30 juz.
  1. Al-suda. Ia menyandarkan tafsirnya pada ibn Abbas, ibn mas’ud dan sahabat-sahabat lain.  Al suda wafat tahun 127 H.
3.     Muqatil ibn sulaiman. Dalam menyusun tafsir, selain menyandarkan kepada para sahabat, muqatil juga mengutip dari taurat yang diriwayatkan oleh orang yahudi. Imam syafi’I menganggap penting tafsir muqatil ini. Dalam riwayat ia mengatakan: “tiap orang memerlukan tiga, yaitu muqatil dalam tafsir, ali zuhair bin abi salam dalam syair dan abu hanifah dalam ilmu kalam.
Adapun toko-tokoh mufassir bi al ra’yi yaitu:
  1. abu bakar al asham (w. 240 H)
  2. abu muslim muhammad ibn badr al isfahani dengan tefsirnya yang terdiri dari 14 jilid. (w. 322H).
3.     ibn jaru al asadi (w. 387 H)
Pada masa bani Abbas la qur’an sudah menjadi sumber macam-macam ilmu. Sebagai contoh, para ahli nahwu telah menjadikan al qur’an sebagai sandaran untuk menyusun kaidah nahwu, dan buku-buku mereka diberi nama ma’ani al qur’an. Begitu juga para fuqaha, banyak diantara mereka yang memberi nama buku fiqh mereka denan ahkam al qur’an.
Ø  Ilmu hadits
Gerakan ilmiah dalam bidang hadits pada masa bani Abbas ditandai dengan gerakan pembukuan. Sebelum itu para sahabat dan tabi’in masih berselisih paham mengenai perlu tidaknya membukukan hadits ini. Namun akhirnya perselisihan itu hilang dan berganti dengan kesepakatan bahwa pengumpulan hadits itu perlu dilaksanakan. Barangkali Umar ibn Abd. Aziz adalah orang pertama yang mempunyai rencana dan sekaligus melaksanakan pembukuan hadits itu. Ia telah memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad untuk mengumpulkan dan membukukan hadits.
Dalam masa ini, muncullah ahli-ahli hadits ternama dengan kitab-kitab haditsnya yang besar. Ahli-ahli hadits yang termashur di zaman ini :
  1. Imam Bukhori, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Abi Hasan Al-Bukhari Lahir di bukhara tahun 194 H. pada masa kanak-kanak ia sudah mampu menghafal 70 ribu hadits. Sebagian besar hadits itu ia ketahui tanggal lahir, wafat dan tempat tinggal para perawinya. Pada umur 17 tahun ia sudah hafal dua kitab karangan ibn al- mubarak dan waqi. Disamping kuat ingatannya, al bukhari mampu untuk mengkritik para sanadnya. Dalam mengumpulkan hadits ia keliling ke balkh, naisabur, rai, baghdad, bashrah, kufah, makkah, madinah, mesir damaskus, hims dan waisariyah. Perjalanan ini memakan waktu 16 tahun. Kitabnya al-Jami’us Shahih yang dikenal dengan Sahih Bukhari.
  2. Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim bin Al-Hajjaj al-Qushairy an-Naisabury. Ia bertempat tinggal di naisabur. Dalam rangka mengumpulkan hadits ia pergi berkeliling ke iraq, hijaz, syam, mesir dan berkali-kali ke baghdad. Ketika al-bukhari datang ke naisabur, ia belajar kepadanya dan mengambil harits dari padanya. Muslim mengarang buku hadits yang dikenal dengan nama shahih muslim.
  3. Ibnu Majah, yaitu Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazwany, wafat tahun 273 H. Kitabnya yang bernama as-Sunan terkenal dengan nama Sunan Ibnu Majah.
  4. Abu Daud, yaitu Abu Daud Sulaiman bin Asy’as al-Sajastany , wafat di Bashrah tahun 275 H. Kitabnya yang bernama as-Sunan terkenal dengan nama Sunan Abu Daud
  5. At-Tirmidzi yaitu al-Hafidh Abu isa Muhammad bin Isa Ad-Dhahak at-Tirmizi dengan kitabnya as-Sunan yang terkenal dengan nama Sunan Tirmizi.
  6. An-Nasa’i yaitu Abu Bakar Rahman Ahmad bin Ali an-Nasa’I wafat di Mekkah tahun 303 H. Kitabnya yang bernama as-Sunan terkenal dengan nama Sunan Nasa’i.
  7. Al-Hakim an-Naisabury, wafat tahun 405 H
  8. Abdul Fatahsalim bin Aiyub ar-Razy, wafat tahun 447 H
  9. Al-Ajiry, wafat tahun 360 H
10. Al-Baihaqi, wafat tahun 458 H
Dan masih banyak lagi Ulama-ulama Hadist yang menggeluti ilmu Hadits.
Ø  Ilmu Fiqih
Zaman Daulah Abbasiyah yang merupakan zaman keemasan tamaddun Islam, telah melahirkan ahli-ahli ilmu hukum (Fiqih) yang terbesar adalam sejarah Islam, dengan kitab-kitab Fiqihnya yeng terkenal sampai sekarang. 
  1. Imam Abu Hanifah yang meninggal di Bagdad tahun 150H/677M adalah pendiri madzhab Hanafi.
  2. Imam Malik ibn Anas yang meninggal di Madinah tahun 179H/795M adalah pendiri madzhab Maliki.
  3. Muhammad ibn Idris asy-syafi’I yang meninggal di mesir tahun 204H/819M adalah pendiri madzhab syafi’I.
4.    Ahmad ibn Hambal yang meninggal tahun 241H/855M adalah pendiri madzhab Hambali.
Para Fuqoha yang lahir dalam zaman ini terbagi dalam dua aliran Ahlul Hadits dan Ahlul Ra’yi.
  1. Ahlul Hadits : Yaitu aliran yang mengarang fiqih berdasarkan al-Haidts. Pemuka aliran ini yaitu Imam Malik dengan pengikut-pengikutnya, pengikut Imam Syafi’i  ,pengikut Imam Hambali dan lain-lain muqallidin.
2.    Ahlul Ra’yi : Yaitu aliran yang mempergunakan akal dan fikiran dalam menggali hukum, pemuka aliran ini yaitu Abu Hanifah dan teman-temannya Fuqoha Irak”19
Pada masa ini telah terjadi pertentangan seru diantara para mutasyari’in mengenai penggunaan sumber. Pertentangan itu berkisar pada:
  1. al sunnah: apakah al sunnah merupakan satu sumber diantara sumber pengambilan hukum sebagai penyempurna al qur’an? Kalau itu ya, bagaimana melaksanakannya?
  2. Al qiyas dan al ra’y. apabila tidak mendapatkan nash dalam al qur’an dan hadits apa diperbolehkan menggunakan akal?
  3. Ijma’. Apakah ijma’ termasuk dalah satu sumber pengambilan hukum fiqh?
  4. Taklif yang diambil dari dua azas fi’il amar dan nahi. Apakah semua yang diperintahkan (dengan fi’il amr) berarti wajib dan yang dilarang (dengan nahi) berarti haram?
Dari pertentangan itu akhirnya melahirkan apa yang meraka namakan ushul al fiqh, yaitu kaidah yang harus diikuti oleh para mujtahid dalam mengambil hukum. Berbeda dengan masa sebelumnya, maka masa ini semua buah pikiran para fuqaha’ telah dibukukan, dan murid-murid mereka menyebar luaskan serta mempertahankannya.
Para tokoh fuqaha’ pada masa itu adalah abu hanifah, malik, al syafi’I dan ahmad ibn hambal. Masing-masing mempunyai madzhab yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin dunia.
Ø  Ilmu kalam
Ilmu Kalam adalah ilmu yang mempergunakan bukti-bukti logis dalam mempertahankan akidah keimanan dan menolak pembaharu yang menyimpang  dalam dogma yang dianut kaum muslimin.
Lahirnya Ilmu Kalam karena dua faktor :
  1. Untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat, seperti halnya musuh yang memakai senjata itu.
  2. Karena semua masalah, termasuk masalah agama  telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu.
Diantara pelopor dan ahli Ilmu Kalam yang terbesar yaitu Washil bin Atho’, Abu Huzail al-Allaf adh-Dhaam, Abu Hasan al-Asy’ary dan Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali.
Kaum muslimin salaf mengangkat tinggi dalil-dalil al-Qur’an  dan sunah yang berhubungan dengan penyucian Tuhan (tanzih) karena jumlahnya dalil amat banyak dan gamblang.
Sedangkan ayat-ayat yang secara harfiahnya tidak menunjukkan pada dalil-dalil yang tegas dan makna yang jelas, tidak akan mengandung tasybih apabila kita menerangkannya berdasar referensi pada keterangan terinci seperti yang dikemukakan mazhab Asy’ariyah, yaitu ahlussunah.
Pengikut syeh Abu Hasan Al-Asy’ari menjadi banyak. Murid-muridnya seperti Ibnu Mujahid dan lain-lainnya, mengikuti jalan yang ditempuh gurunya, Al-Qadli Abu Bakar al-Baqilani belajar dari murid-murid Al-Asy’ari.
Ø  Ilmu Tasawuf
 Ilmu Tasawuf, yaitu salah satu Ilmu yang tumbuh dan matang dalam zaman Daulah Abbasiyah. Ilmu Tasawuf adalah Ilmu Syari’at yang baru diciptakan, yang inti ajarannya : tekun beribadat dengan sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia dan bersembunyi diri beribadah.
Ilmu Tasawuf telah menanamkan pengaruh yang sangat berkesan dalam kebudayaan Islam. 
Perkembangan Ilmu Tasawuf dari abad kedua Hijriyah telah mengalami perubahan-perubahan. Sehingga dengan demikian kelihatannya Tasawuf berkembang pada zaman Abbasiyah II dan III dan demikian seterusnya.
Bersamaan dengan lahirnya Ilmu Tasawuf, muncul pula ahli-ahli dan ulama-ulama diantara mereka itu adalah :
  1. Al-Qusyairi, nama lengkapnya Abu Kasim abdul Karim bin Hawzin al-Qusyairi yang wafat tahun 465 H, dengan kitabnya ar-Risalatul Qusyairiyah.
  2. Syihabuddin Sahrawardy, wafat di Baghdad tahun 632 H, dengan kitabnya Awariful Ma’aruf.
  3. Imam Ghazali, satu diantara keturunan non Arab yang berasal dari Persia, nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali. Lahir di Thus abad 5 H. Meninggal tahun 502 H. Kitab Tasawufnya Ihya Ulumuddin dengan mengawinkan ajaran Tasawuf dengan ajaran hidup bermasyarakat”18. Sehingga jadilah ilmu Tasawuf ilmu yang dibukukan setelah sebelumnya hanya sistem Ibadah saja. Kitab-kitab karangan Imam Ghazali banyak sekali, baik mengenai Tasawuf atau lainnya.
Ø  Ilmu Bahasa
Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah adalah ilmu Nahwu, Ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badhi’ dan Arudh. Bahasa arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan disamping sebagai alat komunikasi antar bangsa.
Para ahli ilmu bahasa diantaranya:
1.     Sibawaih (wafat 183 H), karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1000 halaman.
2.      Al-Kasa’I (wafat 190 H) yang mengarang kitab tata bahasa
3.     Abu Zakaria Al-Harro (wafat 208 H) kitab Nahwunya setebal 6000 halaman.
  1.   Muaz Al-Harro (wafat 187 H) yang mula-mula membuat tashrif

3.     Perkembangan Ilmu-ilmu Pengetahuan Umum
Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja, melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah).
Bahkan jika dicermati, kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat  yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat).
Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan  sejarah ilmu pengetahun masa kini. Adapaun ilmu ‘aqli yang dimaksud antara lain : Ilmu Kedokteran, Astronomi, Matematika, Filsafat,  Geografi, Sejarah, Farmasi dan Ilmu Kimia.
Ø  Ilmu Kedokteran
Seiring dengan ilmu-ilmu lain, ilmu kedokteran juga sempat mencapai masa keemasannya, daulah Abbasiyah telah melahirkan banyak dokter ternama. Sekolah-sekolah tinggi kedokteran banyak didirikan diberbagai tempat, begitulah rumah-rumah sakit besar yang berfungsiselain sebagai perawatan para pasien,juga sebagai ajang peraktek para dokter dan calon dokter. Adapun para dokter yang populer pada masa itu antara lain :
  1. Al-Razi, yaitu orang pertama yang menyusun ilmu kedokteran anak. Dia juga tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles.
2.    Ibnu Sina, yang sekaligus juga seorang Filosof, yang telah menemukan sistem peredaran darah pada mansia. Diantara karyanya ialah Al-Qanun Fi al-Thibb .
3.    Abu Ali al-Hasan Ibn al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama al-Hazen, adalah ahli Optik pertama..
4.    Ibnu Wasiwalhi ( wafat 243 H ), yaitu Abu Zakaria Yuhana bin Wasiwalhi, ayahnya seorang ahli farmasi di rumah sakit Yundisapur, mengarang banyak buku kedokteran.
5.    Kimia dan Farmasi.  Para ahli di bidang ini antara lain adalah  : Jabir Ibn Hayyan, Tokoh ini berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan satu zat tertentu. 
6.    Ibnu Baitar  ( abad ke 7 H ). Tiga buah karangannya yang sangat penting yaitu al-Mughni ( tentang obat-obatan ), Jaami’ Mufradatul Adwiyah wal Aghziyah ( tentang obat dan gizi )
Ø  Ilmu Astronomi
Ilmu Nujum ( astronomi ) adalah ilmu yang mempelajari tentang gerakan bintang-bintang yang tetap dan pelanet-pelanet. Dari cara gerakan itu berlangsung, astronomi menarik kesimpulan berdasarkan metode geometris tentang adanya bentuk-bentuk  tertentu dan bermacam posisi lingkaran yang mengharuskan terjadinya gerakan yang dapat dilihat dengan indera. 
Ilmu astronomi atau perbintangan berkembang dengan baik, bahkan sampai mencapai puncaknya, kaum muslimin pada masa bani Abbasiyah mempunyai modal yang terbesar dalam mengembanngkan ilmu perhitungan. Mereka menggodok dan mempersatukan aliran-aliran ilmu bintang yang berasal atau dianut oleh Yunani, Persia, India, Kaldan. Dan ilmu falak arab jahiliyah. Ilmu bintang memegang peranan penting dalam menentukan garis politik para khalifah dan amir.
Diantara para ahli ilmu astronomi pada masa ini adalah:
  1. Al-battani atau Albatagnius, seorang ahli astronomi yang terkenal dimasanya. Dia berhasil membuat daftar tabel Sinus, tangen, dan Kotangen dari 0-90 derajat secara cermat.
2.    Al-Fazzari, seorang pencipta atrolobe, yakni alat pengukur tinggi dan jarak bintang.
3.    Abul Wafak, seorang menemukan jalan ketiga dari bulan, jalan kesatu dan kedua telah ditemukan oleh ilmuan yang berkebangsaan Yunani.
4.    Rahyan Al Bairuny, seorang astronomi, cendekiawan dan sainitis Islam terkemuka masa kejayaan Islam. Sarjana yang paling besar sepanjang masa.
5.    Abu Mansyur Al Falaky, seorang ahli ilmu falaq.
6.    Al-farghani, karya yang utama yaitu al-mudkhila Ilmu Hayai Al-Aflal.
Untuk mendukung perkembangan ilmu ini, para khalifah telah banyak membangun observatorium diberbagai kota, disamping observatorium milik pribadi ilmuan.
Ø  Ilmu Matematika
Bidang ilmu matematika juga mengalami kemajuan pesat, diantara para tokohnya yaitu:
1.    Al-Khawarizmi, seorang pakar matematika muslim yang mengarang buku Al- Gebra (Al-jabar). Dan dia juga yang menemukan angka nol.
2.    Umar Al-Khayyan, seorang ahli matematika sekaligus astronom dan penyair ternama.
Ø  Ilmu Filsafat
Melalui proses penerjemahan buku-buku filsafat yang berbahasa Yunani para ulama muslim banyak mendalami dan mengkaji filsafat serta mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran islam. Sebab itulah lahirla filsafat islam yang akhirnya menjadi bintangnya dunia filsafat diantara para ahli filsafat yang terkenal pada waktu itu adalah:
1.    Abu Ishak Al-Kindi (1994-260 H/809-873 M). Ia adalah satu-satunya filosof berkebangsaan asli arab, yakni dari suku kindah, karya-karyanya tidak kurang dari 236 buah buku. Selain itu Ia juga menulis ulasan-ulasan atas buku Aristotels yang berbeda, diantarany, pengantar atau menulis logika menurut pikirannya sendiri.
2.    Abu Nasr Al-Faraby (390 H/961 M), guru dari Ibnu Shina dan Ibnu Rusyd. Al Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles dan karyanya tak kurang dari 12 buah buku.
3.    Al-Ghazali (450-505 H/1058-1101 M), beliau dijuluki sebagai hujjatul islam, karyanya tidak kurang dari 70 buah diantaranya:
a.   Al Munqidz Minadlalal
b.   Tahafutul Falasifah
c.   Mizanul Amal
d.   Ihyaulumuddin
e.   Mahkun Nazar
f.    Miyazul Ilmi, dan
g.   Maqashidul Falasifah
4.    Ibnu Rusyd di barat lebih dikenal dengan nama Averoes, banyak berpengaruh di barat dalam bidang filsafat, sehingga disana terdapat aliran yang disebut averroisme
Ø  Ilmu Geografi Dan Sejarah
Diantara tokohnya adalah :
  1. Baladlari, sejarawan terkenal dengan kitabnya Futuh al-Buldan yang ditulis dengan gaya yang mengagumkan dan menjadi tanda bagi kemajuan yang cemerlang akan semangat sejarah.
  2. Al-mashudi, sejarawan dan ahli georafi, kitabnya Muruj al-Dahab wa Madan al-Jawahar adalah catatan tentang pengalaman pengembaraannya dan mengamatannya.
Ø  Ilmu Farmasi dan Kimia
Pakar ilmu farmasi dan kimia pada masa dinasti Abbasiyah sebenarnya sangat banyak, tetapi yang paling terkenal adalah
  1. Jabir bin Hayyan, ahli kimia dari kuffah yang merupakan bapak modern. Dia mendirikan sebuah leboraturium di Kuffah dan ebrhasil menemukan beberapa bahan kimia dan menulis sejumlah buku tentang kimia
  2. Ibnu Baithar. Ia adalah seorang ilmuan farmasi yang produktif menulis, karyanya adalah Almughni (memuat tentang obat-obatan) dan lain-lain.





BAB  III
PENUTUP

Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan. Itu fakta sejarah yang tak bisa dipungkiri siapapun. Hampir tujuh abad lamanya,mulai 750-1500 M 0-700H, bendera kejayaan Islam terus berkibar.
Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan beragam teori yan mengilhami kemunculan renaissance di Eropa. Al Khowarizmi (matematika), Jabir Ibn Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (kedokteran), Ar Razi (kedokteran), Al Biruni (fisika), Ibnu Batutah (antropologi) adalah contoh nama-nama yang bisa dikedepankan.
Sejarah perkembangan Islam selalu menarik untuk dijadikan bahan kajian. Dengan sejarah, kita dapat mengetahui perkembangan Islam secara lebih detil dan mendalam. Sejarah juga menceritakan fakta-fakta menarik yang selalu dijadikan hikmah atas peristiwa, agar kita dapat mengambil pelajaran dan menjadikan sejarah tersebut sebagai bahan pertimbangan kita dalam bersikap.


DAFTAR PUSTAKA

Murodi. 2003. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Fadlali, Ahmad, dkk. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Pustaka Asatruss.





0 komentar:

Poskan Komentar