Search

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 12 Januari 2011

Persatuan dalam Islam...?

Adalah kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri jika umat islam pada zaman ini telah berpecah belah dan terkotak-kotak, setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya memerintahkan kita untuk membuang perpecahan, dan bersatu padu diatas tali-Nya            

                                                                                   وَلاَ تَفَرَّقُوْاوَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا
 Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai “. (QS Ali Imran : 103).  
 Ibnu Katsir rahimahullah berkata :” Allah memerintahkan untuk bersatu dan melarang berpecah belah. Banyak hadits yang melarang berpecah belah dan menyuruh bersatu sebagaimana dalam sahih Muslim, Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :” Sesungguhnya Allah rela untuk kalian tiga perkara …..(diantaranya disebutkan) : dan agar kalian berpegang dengan tali Allah dan tidak berpecah belah “. (Tafsir Ibnu Katsir 1/397).
 Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa perpecahan adalah sifat orang yang tidak mendapat rahmatNya. Firman Allah ta’ala :

     وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِيْنَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ
Dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang Allah rahmati…”. (Hud : 118-119). 

 Abu Muhammad bin Hazm berkata :” Allah mengecualikan orang yang dirahmati dari himpunan orang-orang yang berselisih“. (Al Ihkam 5/66).
Imam Malik berkata :” orang-orang yang dirahmati tidak akan berpecah belah “. (idem).
Syeikhul islam Ibnu Taimiyah berkata :” Allah mengabarkan bahwa orang yang diberikan rahmat tidak akan berpecah belah, mereka adalah pengikut para nabi baik perkataan maupun perbuatan, mereka adalah ahli Al Qur’an dan hadits dari umat ini, barang siapa yang menyalahi mereka akan hilang rahmat tersebut darinya sesuai dengan kadar penyimpangannya “. (Majmu’ fatawa 4/25). Firman Allah Ta’ala :

                                                       وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
Janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan bagi mereka adzab yang pedih “. (Ali Imran : 105).  
Al Muzany rahimahullah berkata :” Allah mencela perpecahan, dan memerintahkan untuk kembali kepada al qur’an dan sunnah, kalaulah perpecahan itu termasuk dari agamaNya tentu Dia tak akan mencelanya, kalaulah perselisihan itu termasuk dari hukumNya, tentu Allah tidak menyuruh untuk kembali kepada Al Qur’an dan sunnah “. (Jami’ bayanil ‘ilmi wa fadllihi 2/910).
 Dalil – dalil tersebut diatas sudah cukup menunjukkan bahwa islam mencela dan membenci perpecahan serta menganjurkan persatuan.

Hadits tentang perpecahan umat. 
Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya :” Bukankah Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa umat islam ini akan berpecah belah ?”
Jawabannya adalah ; tidak ada bedanya antara perpecahan dengan maksiat, maksudnya bahwa Allah menghendaki adanya maksiat tapi bukan untuk dilaksanakan tapi untuk dijauhi, Nabi juga mengabarkan bahwa nanti akan datang suatu zaman dimana arak akan dinamai dengan bukan nama sebenarnya, hal tersebut tidak menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut, demikian pula perpecahan. Nabi mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah, akan tetapi hal tersebut tidak menunjukkan boleh dilakukan.
Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah berkata :” Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa perpecahan bukan dari sisiNya, maknanya bahwa Allah tidak meridhoinya, tapi Allah menghendaki keberadaanya hanya sebatas iradah kauniyyah saja, sama seperti Allah menghendaki adanya kekufuran dan seluruh maksiat, bukan untuk dilaksanakan tapi untuk dijauhi “. (Al Ihkam 5/64).

Makna persatuan 
Sebagian kaum muslimin memandang persatuan sebagai sesuatu yang harus dikedepankan dari mengingkari bid’ah yang mereka anggap parsial, sehingga akibatnya bid’ah didiamkan dan semakin merajalela, sedangkan sunnah menjadi semakin redup, maka perlu kiranya kita sedikit mengupas seputar persatuan.
Persatuan dalam pandangan islam tidaklah sama dengan persatuan ala demokrasi yang lebih mementingkan persatuan badan dan tidak memperhatikan keyakinan, demokrasi memandang bahwa jumlah mayoritaslah yang harus dijadikan pegangan, walaupun ternyata pendapat mayoritas tersebut berseberangan dengan al qur’an dan sunnah, pemahaman inilah yang banyak menghinggapi pemikiran kaum muslimin, sehingga orang yang tidak mau mengikuti mayoritas dianggap telah memecah belah umat.
Untuk memahami makna persatuan, perlu kita melihat beberapa pertanyaan berikut :
Diatas apa kita bersatu ?
Untuk tujuan apa kita bersatu ?
Dan apa tolak ukur persatuan ?
 Untuk menjawab pertanyaan pertama, cobalah kita renungkan ayat berikut ini :

                                                            وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ
“ Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan lainnya, niscaya (jalan-jalan lain tersebut) memecah belah kalian dari jalannya…”. (Al An’am : 153).
 Dalam sebuah hadits sahih Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis lurus dan bersabda :” ini adalah jalan yang lurus “. Kemudian beliau membuat garis-garis disamping kiri dan kanannya dan bersabda :” ini adalah jalan-jalan lainnya, disetiap jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya “. Kemudian beliau membaca ayat tadi diatas. (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu Mas’ud). Imam Mujahid seorang ahli tafsir di zaman Tabi’in menerangkan bahwa yang dimaksud dengan jalan-jalan lainnya adalah bid’ah dan Syubhat (tafsir Ibnu Katsir).
Ayat ini sangat jelas menyatakan bahwa persatuan haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan yang lurus. Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rosulullah dan para sahabatnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits hasan ketika Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka (sementara, tidak kekal didalamnya), beliau menjelaskan tentang satu golongan yang selamat tersebut yaitu :” apa-apa yang dipegang olehku dan para sahabatku pada hari ini “.
 Jadi persatuan dalam islam maknanya bersatu diatas jalan Rasulullah dan para sahabatnya dan perpecahan maknanya berpecah dari jalan tersebut. Maka siapa saja yang berjalan diatas jalan yang lurus yaitu jalannya Rosulullah dan para sahabatnya maka ia telah bersatu padu walaupun jumlahnya sedikit, dan siapa saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya maka ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata :” Al Jama’ah adalah (engkau berdiri diataas) al haq (kebenaran) walaupun engkau satu orang “.
 Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman :
                                                                                                       وَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai “. (QS Ali Imran : 103).
 Dalam ayat ini, Allah menyuruh kita untuk bersatu memegang talinya sedangkan Tali Allah adalah agamaNya, dan agama Allah adalah yang Allah turunkan kepada RosulNya di dalam Al Qur’an dan Sunnah, kemudian Allah melarang kita bercerai berai, hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mau mengikuti agamaNya sesuai dengan yang diturunkan kepada rosulNya berarti ia telah bercerai berai.

Tujuan persatuan dan tolok ukurnya
 Setelah kita menjawab pertanyaan pertama, maka mudah untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, yaitu untuk tujuan apa kita bersatu dan apa tolak ukurnya ?
Jawabannya yaitu untuk meninggikan agama Allah dengan cara berpegang kepadanya, bukan meninggikan madzhab anu, partai anu, kiyai atau ustadz fulan karena hal itu hanya akan mencerai beraikan kaum muslimin dan menjadi terkotak-kotak, dan inilah yang dimaksud ayat :

                                                  وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
Dan janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka “. (Ar-Rum : 31-32).
 Di dalam At Tafsiirul muyassar (hal 407) diterangkan makna ayat tersebut :” (maksudnya) janganlah kalian seperti kaum musyrikin, ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu yang merubah-rubah agama, mereka mengambil sebagian agama dan meninggalkan sebagian lainnya karena mengikuti hawa nafsu, sehingga merekapun berkelompok-kelompok (hizbiy) karena mengikuti dan membela tokoh dan pendapat kelompok mereka, sebagian mereka membantu sebagian lainnya didalam kebatilan...”.
Dari sinipun kita dapat mengetahui bahwa tolak ukur persatuan adalah al qur’an, sunnah dan pemahaman sahabat bukan pendapat mayoritas, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

                                                                                              فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلىَ اللهِ وَالرَّسُوْلِ
“ Jika kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RosulNya...(An Nisa : 59).
 Kalaulah pendapat terbanyak itu merupakan tolak ukur dalam perselisihan tentu Allah tidak akan menyuruh untuk kembali kepada al qur’an dan sunnah.
Adapun hadits yang sering didengungkan oleh sebagian orang 
                                                                                                                            عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ
Hendaklah kamu berpegang kepada assawadul a’dzom “.
 Ia adalah hadits yang lemah menurut para ahli hadits, semua jalannya tidak lepas dari kelemahan, kalaupun dikatakan shohih maka yang dimaksud assawadul a’dzom dalam hadits tersebut adalah al haq dan pelakunya sebagaimana yang dikatakan oleh imam Al Barbahari dalam kitab syarhussunnah yaitu para shohabat,tabi’in dan tabi’uttabi’in karena kebenaran pada zaman itu mayoritas jumlahnya.

Banyaknya pengikut bukan bukti kebenaran 
Seringkali kita tertipu dengan jumlah banyak, sehingga banyak manusia menganggap bahwa banyaknya pengikut merupakan bukti kebenaran, padahal opini tersebut telah dibantah oleh Al Qur’an dalam ayat-ayat yang banyak, diantaranya firman Allah Ta’ala :

                                                                                           وَ ِإْن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi Ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah “. (Al An’am : 116).
 Ayat ini begitu jelas menyatakan bahwa banyaknya jumlah bukan standar dalam menilai sebuah kebenaran. Lebih jelas lagi disebutkan dalam sebuah hadits yang sahih Rasulullah saw Bersabda :” diperlihatkan kepadaku umat-umat pada hari kiamat, maka aku melihat ada nabi yang diikuti suatu kaum, ada nabi yang diikuti seorang atau dua orang dan ada nabi yang tidak mempunyai pengikut sama sekali…(HR Bukhary dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas).
Dalam hadits tersebut diceritakan adanya nabi yang pengikutnya seorang atau dua orang saja bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali, tentu tidak boleh seorang muslimpun mengatakan bahwa nabi tersebut salah ataupun gagal karena pengikutnya sedikit !!
Oleh karena itu Syeikh Muhammad At Tamimiy menyatakan bahwa menilai kebenaran dengan jumlah terbanyak adalah salah satu perkara jahiliyyah (masail jahiliyyah no 5).

Persatuan ala yahudi. 
Dalam surat Al Hasyr : 14 disebutkan :
                                                                                                                  تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى
Kamu kira mereka (yahudi) itu bersatu padu padahal hati mereka bercerai berai “.
 Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yahudi badannya bersatu padu tapi hatinya bercerai berai. Maka persatuan yang hanya mengutamakan kesatuan badan dan tidak peduli terhadap kesatuan aqidah adalah menyerupai persatuan yahudi, karena aqidah tempatnya adalah hati.
Maka persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menerangkan aqidah yang benar dari aqidah yang batil. Bahkan persatuan tersebut sama saja menghancurkan sebuah pondasi islam yang sangat penting yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

Menjelaskan kesalahan adalah wajib.
Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa apabila kita menjelaskan kesalahan suatu kelompok atau seseorang sama saja memecah belah umat. Padahal kemashlahatan menyelamatkan umat dari bahaya pemikiran sesat lebih besar, karena jika kebatilan itu dibiarkan maka akan semakin samarlah kebenaran kepada manusia.
Ibnu Taimiyah berkata :” para nabi terlindung dari diam untuk mengingkari kesalahan, berbeda dengan ulama. Oleh karena itu selayaknya bahkan wajib hukumnya menerangkan kebenaran yang wajib diikuti, walaupun konskwensinya harus menerangkan kesalahan ulama “. (Majmu’ fatawa 19/123).
Maka jika anda mendengar seseorang menjelaskan tentang kesesatan suatu jama’ah atau individu, tentunya dengan bukti-bukti akurat dan ilmiyyah, janganlah menggapnya sebagai pemecah belah umat, karena telah kita ketahui tadi bahwa justru kesesatanlah yang memecah belah umat dari jalan yang lurus.
Perselisihan yang terjadi akibat bantahan lebih ringan dari pada tersebarnya bid’ah dan kesesatan.
Imam Asy Syathiby ketika membantah sebagian ahli bid’ah berkata :” orang-orang seperti mereka haruslah disebut dan diingkari, karena kerusakan (bid’ah) mereka terhadap kaum muslimin lebih besar dari kerusakan menyebut (nama) mereka…”. (Al I’tisham 2/229).
Kaidah fiqih pun menguatkan hal itu yaitu :” apabila bertemu dua kerusakan maka diambil yang paling ringan dari keduanya “. Maksudnya perselisihan yang terjadi akibat bantahan lebih ringan kerusakannya dari tersebarnya kesesatan orang tersebut.
tapi kita harus tetap berpegang kepada adab islami dalam menjelaskan kesalahan orang seperti menjauhi kata-kata kasar dan sikap arogan.

Peringatan …!!! 
Ada sebagian orang yang mempunyai pemahaman yang harus diluruskan, yaitu ketika kita menyebutkan kesesatan seseorang atau sebuah kelompok berarti kita telah memastikannya sebagai ahli neraka. Ini adalah dugaan yang sangat jauh dari ilmu, karena diantara keyakinan ahlussunnah bahwa tidak boleh kita memastikan seorangpun dari ahli kiblat sebagai penduduk api neraka kecuali dengan dalil dari al qur’an dan hadits.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam majmu’ fatawa (4/484) :” Nash-nash ancaman bersifat umum, maka tidak boleh kita memastikan seseorang sebagai penduduk api neraka, karena boleh jadi ada penghalang yang kuat seperti taubat, atau kebaikan yang dapat menghapus kesalahan, atau mushibah yang menimpanya, atau syafa’at yang diterima untuknya atau yang lainnya “.
Harus engkau bedakan antara memvonis orang sesat dengan vonis sebagai ahli neraka, karena yang pertama adalah vonis di dunia yang bersandarkan pada sesuatu yang tampak, sedangkan yang kedua adalah vonis di akhirat yang merupakan hak tunggal bagi Allah saja.

Permisalan yang indah 
Dalam sebuah hadits Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكىَ مِنْهُ عُضْوٌ تًَدَاعَى سَائِرُ الجَسَدِ.  
“ Permisalan kaum mukminin dalam cinta dan kasih sayang mereka bagaikan satu jasad, apabila salah satu anggota merasa sakit, maka seluruh badan merasakannya “. (HR Muslim).
 Bid’ah dan kesesatan adalah penyakit yang menimpa umat ini, kita harus merasa sakit bila ada orang melakukannya, tentu dengan mencari obatnya yang mujarab yaitu sunnah.
Nabi menyebutkan “ dalam cinta dan kasih sayang” seseorang dikatakan sayang kepada saudaranya adalah bila ia menginginkan untuknya kebaikan bagi dunia dan akhiratnya. Maka bila kita melihat seseorang hendak jatuh kedalam jurang tentulah kita tidak boleh membiarkanya, tapi kita selamatkan dia. sebaliknya bila anda diam dan membiarkannya jatuh kedalam jurang berarti anda telah berbuat zalim dan kehilangan kasih sayang.
Kemaksiatan baik berupa syirik, bid’ah, khurofat dan lain-lain dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka, bila kita biarkan pelakunya tanpa diberi nasehat berarti kita telah kehilangan kasih sayang kepada saudara kita sesama muslim.

Bagai bangunan yang kokoh
 Dalam hadits lain, nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan persatuan umat islam bak sebuah bangunan kokoh yang saling menguatkan satu sama lainnya (HR Bukhary & Muslim).
Sebuah bangunan tentu harus mempunyai pondasi yang kuat, dan pondasi itu adalah aqidah yang benar. Tiang bangunan tersebut adalah amar ma’ruf nahi mungkar, karena bila kemungkaran dibiarkan merajalela akan robohlah bangunan itu. Dan atapnya adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.
Akan tetapi ada seorang da’i yang memahami hadits itu dengan pemahaman yang aneh, katanya bangunan itu terdiri dari batu, semen, pasir maka bila direkatkan akan membentuk sebuah bangunan yang kokoh, batu itu ia ibaratkan kelompok keras, semen kelompok lembut dan pasir bagaikan kelompok tengah-tengah, kalau semua kelompok itu semuanya direkatkan tentu akan menjadi sebuah bangunan yang kokoh.
Kita katakan, sungguh benar apa yang bapak katakan, akan tetapi merekatkan kelompok-kelompok yang ada dalam tubuh umat islam dengan apa ?? apakah dengan cara mendiamkan penyimpangan-penyimpangan yang ada ataukah dengan cara saling menasehati dan rujuk kepada kebenaran ? bila masing-masing kelompok mau kembali kepada Al qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah tentu bangunan itu akan sangat kuat merekat. Adapun kita biarkan kesyirikan, khurofat dan tahayyul merajalela, perdukunan, bid’ah dan maksiat berkuasa maka tidak akan dapat mengokohkan bangunan itu selama-lamanya bahkan akan membuatnya hancur berkeping-keping.

Dosa penyebab perpecahan. 
Rasululah Sallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
مَا تَوَادَّ اثنَانِ فِي اللهِ ثُمَّ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إلاَّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا.
Tidaklah dua orang yang tadinya saling mencintai karena Allah kemudian berpisah kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah satunya “. (HR Bukhary dalam kitab adabul mufrad dari hadits Anas, sahih). 
Imam Qatadah berkata :” Ahli rahmat Allah adalah ahli persatuan walaupun rumah dan badannya berjauhan, dan ahli maksiat adalah ahli perpecahan walaupun rumah dan badan mereka berkumpul “. (Jami’ al bayan 12/85 karya Ath Thabary).
Jadi untuk mewujudkan persatuan hendaknya kita jauhi sebab utama perpecahan yaitu dosa, yang paling besar adalah syirik, lalu bid’ah kemudian maksiat.

Sumber :  http://www.facebook.com/note.php?note_id=160927483943827

0 komentar:

Poskan Komentar